Skip to main content

Kisahku (Emak Ello Menre Mekka)

Aku baru tahu penyebab Emak amat perhitungan mengeluarkan uang dari lemari uang. Emak ingin naik haji. Lemari uang Emak mirip berangkas fugsinya. Hanya bentuknya agak beda. Lemari uang Emak mirip lemari kaca. Di atasnya menaruh pakaian keluarga yang masih baru. Di lacinya Emak menaruh uang dan beberapa barang berharga seperti emas dan surat berharga dibungkus kain. Yang bisa mengoperasikan lemari itu hanya Emak. Lemari itu hanya Emak yang tahu kuncinya dimana ditaruh. Emak menaruh kuncinya berpindah. Tujuan agar orang yang melihat menaruhnya kesulitan mencarinya. Saking seringnya berpindah tempat Emak menaruh kuncinya.Berapa kali Emak kebingungan sendiri. Emak sering lupa ditaruh dimana kunci 'berangkas' itu. Jika kondisi seperti itu Emak kelimpungan. Panik. Uang yang dikumpulkan dari hasil jual telur, gabah, sapi dan lainnya hilang seketika. Emak terkadang berpikir demikan. Hal-hal yang tak mungkin terpikirkan Emak pikirkan. "Jangan-jangan ada pencuri yang memasuki rumah kita?" Kata Emak dengan bahasa Bugis.

"Coba cari dulu, mungkin salah taruh." Jawab Bapak berusaha menenangkan istrinya yang baru pulang dari sawah panen.

"Saya masih ingat, kunci saya taruh di bawah kasur tempat tidur."

Jika demikian Bapak hanya terdiam. Ia berusaha membantu istrinya.

Kami anak-anak tanpa bertanya bisa tahu kalau Emak mencari kunci lemari uang. Kita paham, Emak hampir tiap hari membuka lemari itu. Sekedar melihatnya, memasukkan uang baru, atau mengambil untuk dipinjamkan ke keluarga yang ingin pinjam uang. Tiap membuka lemari uang itu Emak menghitung ulang jumlah itu. Itu kebiasaan Emak. Jika asyik menghitung uang Emak lupa kalau sedang masak. Pernah suatu untung ada Bapak. Nasi yang sedang dinanak hampir sudah berbau gosong.

"....," ceramah Bapak.

Emak mengangguk-angguk sembari menutup laci uangnya.


Emat tahu persis tata letak isi lemari itu yang lebih tepatnya disebut lemari pakaian. Emak menyulap lemari pakaian itu jadi "brangkas" uang. Emak punya kehebatan mengelola kas rumah tangga. Beliau bisa mengembang-biakan uang yang ada dari hasil pertahian dan peternakan keluarga. Emak menyewa sawah orang untuk dikerjakan suami dan anak-anaknya. Sawah itu disewah hingga peminjam sawah itu mampu membayarnya.

Di kampungku, peminjam uang tidaklah gratis tapi ada istilah pakatenni. Istilah pakatteni mirip bentuk peminjaman di bank. Tapi sistem pengembalian uang yang dipinjaman agak berbeda. Si peminjam uang harus mappakateni sawah, empang atau ladang. sawah itu pakkateni hingga si peminjam bisa membayarnya. Sawah itu jadi hak milik orang yang meminjamkan uang hingga bisa membayar uang yang dipinjam tadi. Bagaimana jika uang yang dipinjam tidak bisa membayarnya? Ya, sawah itu jadi hak kelola dan mengambil hasilnya. Biasanya, sawah yang tepatnya disebut sawah jaminan itu sama luas dengan uang yang dipinjamkan. Terkadang ada pemilik sawah mengerjakan sawah itu lagi tapi jaminan bagi dua hasilnya dengan yang makkateni tadi.

Emak yang jago mengumpulkan uang banyak makkateni sawah. Bisa disebut Emak-Bapak petani sukses di Galungboko, kampungku.

Comments

Popular posts from this blog

Namaku Habibi

Namaku Habibie. Demikian kedua orangtua tercinta menyapaku. Bapakku Maming memberikan nama itu. Menurut pengakuan Bapakku yang kudengar dari Emakku Dg Halika bahwa nama itu dipilih agar nanti kalau sudah besar bisa sehebat BJ Habibie, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Bapak punya impian kelak aku sesukses mantan Presiden RI 4 itu. Bapak berharap ada anaknya yang memiliki pengaruh di dunia ini seperti BJ Habibie. Bapak mengidolakan BJ Habibie, selain hebat teknologi, taat menjalankan ajaran agama Islam. Asal usul pemberian namaku kata Bapak, selain mencontek nama BJ Habibie nama itu ditemukan juga dalam kitab al-Barzanji. Sebelum Bapak bergabung organisasi Muhammadiyah, beliau lebih suka baca barzanji daripada al-Qur'an. Dan aku anaknya yang beruntung sering ikut barzanji pada pesta pernikahan, syukuran, dan naik rumah. Aku senang ikut Bapak berbagai acara di kampungku. Tiap pulang dari barzanji dapat bungkusan makanan enak. Semua kue dan jenis makanan bugis-makassar bisa ...

Emak-Bapak, Cahayaku

kala hidupku gelap ada kau di sana menyinari kala hati anakmu gersang Kau dari kejahuan menyirami akan selalu kukenang kasihmu di sini kan slalu berdoa dan kusayangi dari jauh Kau penentram hidup anakmu ini di kala dunia gersang Kau belai dengan kasih sedari dulu kucari arti sebuah hidup sejati ke mana lagi kutemukan arti cinta murni hanya hidup bersama doamu aku bahagia dengan cintamu kuberharap cinta sejati cintamu pada anakmu ini tak lekang oleh jaman kasihmu tak pilih kasih dan tak musnah kemurnian hatimu kukenang sepanjang masa pengerbonanmu jadi acuan perjuanganku Emak-Bapak... cintamu tak mampu kuliskan hanya cahaya matamu yang melukiskan memberi gambar sebuah cinta hakiki Emak-Bapak... sedari dulu jiwa ini merindukan ketenangan di sela pencarian jalan kemenangan anakmu selalu berusaha mengabdi di tengah keterbatasan hms, Selasa, 04 Agustus 2009

Kisahku I

Namaku Habibi. Demikian kedua orangtua tercinta menyapaku. Bapakku Maming memberikan nama itu. Menurut pengakuan Bapakku yang kudengar dari Emakku Dg Halika bahwa nama itu dipilih agar kelak bisa sehebat BJ Habibie, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Bapak punya impian suatu hari nanti aku sesukses mantan Presiden RI 4 itu. Bapak berharap ada anaknya yang memiliki pengaruh di dunia ini seperti BJ Habibie. Bapak mengidolakan BJ Habibie, selain hebat teknologi, taat menjalankan ajaran agama Islam. Asal usul pemberian namaku kata Bapak, selain mencontek nama BJ Habibie nama itu ditemukan juga dalam kitab al-Barzanji. Sebelum Bapak bergabung organisasi Muhammadiyah, beliau lebih suka baca barzanji daripada al-Qur'an. Dari 8 bersaudara aku yang sering ikut barzanji. Dan aku anaknya yang beruntung sering ikut barzanji pada pesta pernikahan, syukuran, dan naik rumah. Aku senang ikut Bapak berbagai acara di kampungku. Tiap pulang dari barzanji dapat bungkusan makanan enak. Semua kue ...