Skip to main content

Piara Itik, Ayam, Sapi dan kuda

Usiaku memasuki 5 tahun. Aku merasakan kenikmatan menyaksikan aktivitas Emak di tiap pagi hari. 

Emak yang ulet mengerjakan apa saja untuk nilai positif bagi anak-suaminya. Tiap pagi dan petang, Emak memberi makan itik piaraannya yang berjumlah 20 ekor. 

Di tangan kiri Emak memegang air dengan ember yang pantatnya kotor penuh tanah bercampur tahi itik. Di tangan kanan Emak memegang air bekas cuci piring di tempat cek berukuran 5 liter. 

Tempat itu tiap hari nongrong di tempat cuci piring keluargaku. Semua bekas air cuci piring dari makan yang sudah dibersihkan dimasukkan ke tempat itu. Tempat cek itu sekaligus pengganti ember. Dalamnya, ada kepala ikan, perut ikan, nasi basi. Hampir semua itik Emak bertelur. Wao luar biasa.

Jika pagi hari, kandang itik yang ditempatkan di bawah rumah panggung kami memutih oleh telur itik. Pemandangan itu asyik di pagi hari. Aku yang masih kecil menikmati pemandangan itu. 

Telur-telur itu dimasukkan dalam ember dan ditampung di bawah tempat tidur Emak. Sebelum disimpan Emak menghitung jumlah telur. Emak tahu bila ada dari kami anaknya mengambil sebutir telur saja. 

Suatu waktu Emak kehilangan telur satu biji.Emak menanyakan anaknya satu per satu. Tiada yang ngaku. Semua diam. Membisu.

Aku tahu Heru yang mengambil telur Emak. Telur dimasak atau digoreng mata sapi jika jenuh dengan menu yang itu-itu saja. Aku melihatnya langsung. Tapi bisa patal akibatnya. Sang 'pencuri' bisa nekat memukuli sang pelapor. jika melapor

Heru menatapku.

Pencurinya pun dilaporkan di kepolisian Emak. Emak punya sendiri menghukum anak-anaknya yang mengabil telurnya. Jatah lauknya dikurangi saat makan berjamaah. Terkadang kami anak-anaknya, "Kenapa Emak bisa jika kehilangan telur. Padahal kan telurnya banyak?"

Hanya Emak yang tahu jawabannya. Kami anaknya hanya bertanya dan penasaran. Kok bisa ya Emak sehebat itu. Jangan-jangan Emak piara tuyul atau Emak menaro CCTV dalam kamarnya seperti di hotel-hotel di Jakarta. hehehe (kan CCTV belum ada waktu itu, sepeda aja sepeda & tivi kami tak punya).

Telur itik biasanya Emak jual langsung ke pasar Tanete. Kebanyakan peternak itik menjual telurnya di rumah. Para pembeli yang datang tiap pagi jam 6.30 ke rumah-rumah warga. Pasar Tanete adalah pasar di kampungku. 

Tiap 5 kali sekali secara bergulir pasar Tanete. Masyarakat sekitar menjajakan hasil perkebunan dan peternakan di pasar ini. Emak memilih menjual telur itiknya langsung di pasar karena harganya lebih mahal. Meski selisih Rp 25 perak. Emak menenteng telurnya ke pasar. Cukup berat.

 Aku mengakui kegigihan Emak luar biasa. Meski di rumah ada yang datang ingin beli telur. Kalau harga tak cocok, tak ditambahkan Rp 25 atau terkadang Rp10 perak Emak urung menjualnya.

Terkadang telur itu dikannasa, semacam diasingkan kalau kita di Jakarta. Telur yang dikannasa itu, yang sudah terasa asing Emak jual atau dimakan untuk keluarga. Emak mengasingkan (kannasa) telur jika musim tanam dan panen. Karena Bapak sibuk ke sawah hingga tak sempat cari ikan ke sawah, kali, dan rawah-rawah. 

Meski banyak telur tapi kami anaknya jarang makan telur kecuali waktu menanam dan panen. Itu biasanya dipotong 2 hingga potong 4 buat anak-anaknya. Kami anaknya maklum dan bisa memahami kondisi itu karena kami banyak bersaudara. Ada ikan hasil tangkapan Bapak yang disimpan di baskom besar.

Kakak tertuaku Hamzah, Nurliah dan Khaeruddin mendapatkan porsi yang agak istimewa. Kedua dapat satu butir. Itu kalau musim kerja sawah. Mungkin karena mereka kerja keras. Sedangkan aku yang masih kecil belum sekeras itu kerjanya.

Kalau menurut aku sih, pasar itu lebih tepat disebut pasar kliwon. Karena tiap ingin tahu hari ini pasar. Di sekitar kampungku ada 5 pasar. Kelima pasar tradisional itu bergantian sesuai hari Jawa. Kalau hari kliwon anak-anak sepertiku paham, hari itu pasar Tanete. Dan terkadang kita anak-anak belum bisa baca hanya bisa tahu jika di pagi hari itu Emak sibuk menghitung telusnya. Artinya, jika Emak menghitung telur setelah senja tampak berarti hari ini pasar Kliwon. Kita berbahagia dapat makan enak. Karena hari itu Emak masak masakan enak.

Kala itu, aku masih kecil hanya bisa menyaksikan Emak mengurus itik dan ayamnya melalui cela-cela dafara rumahku. Aku seperti sujud atau terkadang tidur terterlentang dari atas rumah. Kalau masih ngantuk, biasanya tertidur. Melihat Emak mengurus binatang piaraanya terlihat asik. Damai. Mengasikkan. Aku banyak belajar dari Emak memelihara binatang piaraan dengan cinta.

Sesekali Emak menepuk itik dengan mesra yang bertelur. Sebaliknya, itik yang tidak bertelur Emak menepuknya dengan tepukkan penuh energi emosional, pukulannya agak keras sembari bibirnya komat-kamik. Sepertinya Emak baca doa atau dzikir. Kemdian ditiupkan ke itik yang tidak bertelur itu. 

Ada lagi kejadian unik yang aku saksikan tiap hari. Itik jantan dan itik tak berteluk terakhir diberi makan. Itik jantan dan tak bertelur tadi buatkan tempat kecil dalam kandang itu ukuran 30X30 cm. Kedua kelompok yang tak bertelur itu diberi makan dengan kandang kecilnya jika itik bertelur sudah kenyang. Melihat kelakuan Emak seperti itu sebagai pemandangan yang asik.

****

Emak memberi makanan itiknya sekitar 20 menit. Setelah semua itiknya selesai makan Emak membuka kandangnya. Itik punya tersendiri jika kenyang. Ia meninggalkan makanannya dan lebih memilik berwek-wekwek. 

Leher panjangnya dijulurkan ke atas. Dengan suara berirama datar bariton. Jika gerbang dibukakan maka itik itu bersama-sama keluar dari kandang keluar. Seolah dikomandani oleh seekor itik yang lebih gagah. Leader itik yang gagah itu menundukkan kepalanya dan itik-itik lainnya mengikuti dari belakang secara berbaris. 

Bagitu pula kalau itik itu ingin dimasukkan tinggal buka kandang. Itik yang gagah bulunya yang lebih masuk kemudian. Suara itik berlainan ketika ingin keluar dan itik ingin masuk. Itik yang lapar dan itik kenyang punya suara yang berbeda. Suara kala minum dan makan suara itik itu berbeda. Perbedaan suara itu dikenal dengan gelombang suaranya.

Itik sudah beres.

Emak melangkah ke kandang ayam sembawa sisa makanan itiknya. Emak biasanya tinggal menambahkan dedak dan butiran agar ayam itu bertelur. Dari segi membuat adonan makan...

Comments

Popular posts from this blog

Namaku Habibi

Namaku Habibie. Demikian kedua orangtua tercinta menyapaku. Bapakku Maming memberikan nama itu. Menurut pengakuan Bapakku yang kudengar dari Emakku Dg Halika bahwa nama itu dipilih agar nanti kalau sudah besar bisa sehebat BJ Habibie, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Bapak punya impian kelak aku sesukses mantan Presiden RI 4 itu. Bapak berharap ada anaknya yang memiliki pengaruh di dunia ini seperti BJ Habibie. Bapak mengidolakan BJ Habibie, selain hebat teknologi, taat menjalankan ajaran agama Islam. Asal usul pemberian namaku kata Bapak, selain mencontek nama BJ Habibie nama itu ditemukan juga dalam kitab al-Barzanji. Sebelum Bapak bergabung organisasi Muhammadiyah, beliau lebih suka baca barzanji daripada al-Qur'an. Dan aku anaknya yang beruntung sering ikut barzanji pada pesta pernikahan, syukuran, dan naik rumah. Aku senang ikut Bapak berbagai acara di kampungku. Tiap pulang dari barzanji dapat bungkusan makanan enak. Semua kue dan jenis makanan bugis-makassar bisa ...

Emak-Bapak, Cahayaku

kala hidupku gelap ada kau di sana menyinari kala hati anakmu gersang Kau dari kejahuan menyirami akan selalu kukenang kasihmu di sini kan slalu berdoa dan kusayangi dari jauh Kau penentram hidup anakmu ini di kala dunia gersang Kau belai dengan kasih sedari dulu kucari arti sebuah hidup sejati ke mana lagi kutemukan arti cinta murni hanya hidup bersama doamu aku bahagia dengan cintamu kuberharap cinta sejati cintamu pada anakmu ini tak lekang oleh jaman kasihmu tak pilih kasih dan tak musnah kemurnian hatimu kukenang sepanjang masa pengerbonanmu jadi acuan perjuanganku Emak-Bapak... cintamu tak mampu kuliskan hanya cahaya matamu yang melukiskan memberi gambar sebuah cinta hakiki Emak-Bapak... sedari dulu jiwa ini merindukan ketenangan di sela pencarian jalan kemenangan anakmu selalu berusaha mengabdi di tengah keterbatasan hms, Selasa, 04 Agustus 2009

Kisahku I

Namaku Habibi. Demikian kedua orangtua tercinta menyapaku. Bapakku Maming memberikan nama itu. Menurut pengakuan Bapakku yang kudengar dari Emakku Dg Halika bahwa nama itu dipilih agar kelak bisa sehebat BJ Habibie, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek). Bapak punya impian suatu hari nanti aku sesukses mantan Presiden RI 4 itu. Bapak berharap ada anaknya yang memiliki pengaruh di dunia ini seperti BJ Habibie. Bapak mengidolakan BJ Habibie, selain hebat teknologi, taat menjalankan ajaran agama Islam. Asal usul pemberian namaku kata Bapak, selain mencontek nama BJ Habibie nama itu ditemukan juga dalam kitab al-Barzanji. Sebelum Bapak bergabung organisasi Muhammadiyah, beliau lebih suka baca barzanji daripada al-Qur'an. Dari 8 bersaudara aku yang sering ikut barzanji. Dan aku anaknya yang beruntung sering ikut barzanji pada pesta pernikahan, syukuran, dan naik rumah. Aku senang ikut Bapak berbagai acara di kampungku. Tiap pulang dari barzanji dapat bungkusan makanan enak. Semua kue ...